Saturday, September 22, 2012

Planet Layak Huni Selain Bumi

Untuk pertama kalinya, astronom akhirnya menemukan planet yang mirip Bumi di luar Tata Surya, sebuah planet ekstrasolar dengan radius 50% lebih besar dari bumi dan mampu memiliki air dalam bentuk cair. Penemuan ini memberi sebuah harapan baru dan sebuah langkah maju dalam usaha pencarian planet-planet yang bisa digolongkan sebagai planet layak huni. Dengan menggunakan teleskop ESO 3,6 m, tim pemburu planet dari Swiss, Perancis dan Portugal akhirnya menemukan super-Bumi yang massanya 5 kali massa Bumi dan mengorbit bintang katai merah, yang sebelumnya diketahui telah memiliki planet bermassa Neptunus. Para astronom juga menemukan bukti kuat yang menunjukkan indikasi keberadaan planet ketiga dengan massa 8 kali massa Bumi.

Planet Gliese 581 c

Planet Gliese 581 c planet yang diduga mirip Bumi. kredit : ESO  
Exoplanet, itulah cara para astronom dalam menyebut planet yang berada disekitar bintang selain Matahari. Nah, exoplanet yang baru ditemukan ini merupakan exoplanet terkecil yang pernah ditemukan hingga saat ini dan ia bisa mengitari bintangnya hanya dalam 13 hari. Dan jaraknya juga 14 kali lebih dekat dari jarak Bumi -Matahari. Bintang induknya sendiri ternyata bukanlah bintang sekelas Matahari melainkan bintang katai merah yang lebih kecil, kebih dingin dan lebih redup dibanding Matahari. Itulah bintang Gliese 581, bintang yang menaungi si exoplanet mirip Bumi tersebut.

Si exoplanet yang mirip Bumi ini terletak di dalam area layak huni sang bintang (berada dalam habitable zone bintang – akan dibahas dalam artikel yang lain), daerah disekitar bintang dimana air yang berada pada area itu bisa berada dalam bentuk cairan. Exoplanet tersebut dinamakan Gliese 581 c yang artinya planet kedua yang bermukim di bintang Gliese 581. Planet pertama dalam extrasolar planet dinamakan dengan nama bintang dan diikuti indikasi b, bintang kedua indikasinya c dst.

Menurut Stephane Udry dari Geneva Observatory, mereka memperkirakan temperatur rata-rata super-Bumi ini antara 0 – 40 derajat Celcius, dan kondisi airnya masih dalam bentuk cairan. Selain itu radiusnya juga diperkirakan hanya 1,5 kali radius Bumi, dan dari pemodelannya bisa diperkirakan kalau planet ini merupakan planet batuan seperti Bumi atau bisa jadi Gliese 581 c adalah planet lautan.

Ditambahkan oleh Xavier Delfosse, salah satu anggota tim dari Perancis, kalau air dalam bentuk cair merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan sepanjang yang kita ketahui. Dengan memiliki temperatur dan jarak yang relatif dekat seperti yang dimiliki Gliese 581 c, planet ini kemungkinan akan menjadi target penting dalam misi ruang angkasa di masa depan khususnya dalam hal pencarian kehidupan extra-terrestrial. Dan di dalam peta harta karun alam semesta, Gliese 581 c akan ditandai dengan X.

- perlu diingat perbandingan kehidupan itu sendiri akan selalu mengacu pada kehidupan di Bumi.-

Gilese 581
Bintang induk Gliese 581 merupakan satu diantara 100 bintang yang berada dekat dengan kita. Massa dan radiusnya hanya sepertiga massa Matahari. Planet katai merah seperti ini secara intrinsik memiliki kecerlangan setidaknya 50 kali lebih lemah dari Matahari. Bintang katai merah juga termasuk bintang yang umum ditemukan di dalam galaksi kita (Bimasakti) : diantara 100 bintang dekat dengan Matahari, 80 diantaranya berada di kelas ini.

Gl 581, atau Gliese 581, merupakan bintang ke 581 dalam urutan Katalog Gliese yang merupakan susunan bintang yang berada dalam jarak 25 parsecs (81,5 tahun cahaya) dari bintang. Katalog tersebut dibuat oleh Gliese dan diterbitkan pada tahun 1969 dan diperbaharui tahun 1991 oleh Gliese dan Jahreiss. Gliese 581 sendiri jaraknya 6,26 parsecs (22,66 tahun cahaya) berada di konstelasi Libra dan usianya 4,3 milyar tahun.

Menurut Xavier Bonfils dari Lisbon University, Bintang katai merah merupakan target ideal dalam pencarian planet bermassa kecil yang memiliki air dalam bentuk cair. Hal ini disebabkan karena bintang katai seperti ini memancarkan sedikit cahaya sehingga daerah layak huninya (habitable zone) berada lebih dekat dengan bintang dibanding planet-planet disekitar Matahari.

Planet-planet yang berada di daerah tersebut akan lebih mudah dideteksi dengan menggunakan metode kecepatan radial, metode yang paling sukses dalam pencarian dan deteksi exoplanet.

Planet Lainnya di Gliese 581
Dua tahun lalu, tim astronom yang sama juga menemukan planet yang mengelilingi Gliese 581. Planet yang dikenal dengan nama Gliese 581 b memiliki massa 15 massa Bumi, dan mirip dengan Neptunus. Ia mengorbit Gliese 581 hanya menghabiskan waktu 5,4 hari. Pada saat itu astronom juga sudah melihat adanya indikasi planet lain disekitar tempat itu. Dan setelah pencarian yang lebih lanjut, ditemukan planet super-Bumi, tapi bukan hanya itu, ada juga indikasi yang sangat jelas menunjukkan kalau ditempat itu ada planet ketiga. Planet ketiga tersebut memiliki massa 8 kali massa Bumi dan menyelesaikan putaran orbitnya dalam waktu 84 hari.

Sistem keplanetan di Gliese 581 sedikitnya telah memiliki 3 buah planet dengan massa kurang lebih 15 massa Bumi, dan ini bisa dikatakan merupakan sistem yang luar biasa. Selama ini pencarian exoplanet paling banyak dilakukan pada bintang yang sekelas Matahari.

Metode Pengamatan
Penemuan Gliese 581 c ini dilakukan dengan menggunakan metode kecepatan radial. Metode kecepatan radial mendeteksi perubahan kecepatan bintang induk yang diakibatkan oleh gaya gravitasi dari exoplanet (yang tak terlihat) saat ia mengorbit bintangnya. Evaluasi pengukuran kecepatan akan memberi deduksi tentang orbit planet, biasanya bisa diketahui periode dan jarak dari bintang, serta massa minimumnya. Secara statistik, massa minimum ini mendekati massa yang sebenarnya.

Penemuan ini dilakukan menggunakan spektograf HARPS (High Accuracy RAdial Velocity for the Planetary Searcher), teleskop ESO 3,6 m di La Silla, Chille. HARPS bisa mengukur kecepatan dengan presisi lebih baik dari 1 meter per detik (3,6 km/jam). Dalam pendeteksian ini, variasi kecepatan yang terdeteksi antara 2 dan 3 meter per detik atau setara dengan 9 km/jam. Dari 13 planet yang massanya dibawah 20 massa Bumi, 11 diantaranya ditemukan dengan HARPS.

Selain Gliese 581 c ada dua sistem lain yang memiliki massa kecil juga, yakni planet es yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L, yang ditemukan dengan jaringan teleskop microlensing. Massa planet tersebut 5,5 massa Bumi. Namun planet tersebut orbitnya lebih jauh dari bintang induknya yang kecil dibanding jarak Gliese 581 c dengan bintangnya. Selain itu planet yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L juga lebih dingin.

Planet lainnya memiliki massa minimum 5,89 massa Bumi (dengan kemungkinan massa benarnya 7,53 massa Bumi) dan periode orbitnya kurang dari 2 hari, hal ini menyebabkan si planet terlalu panas untuk masih memiliki air di permukaannya.

Penemuan Gliese 581 c memberi satu titik cerah dalam masalah pencarian planet-planet yg mirip Bumi didalam zona layak huni bintang. Tapi untuk tiba pada apakah ada kehidupan lain disana atau mungkinkah kita hidup disana masih ada banyak hal yang perlu dijawab.

Sumber 

Benarkah ada Bumi lain?

Planet Bumi yang lain atau bagi kalangan astronom lebih dikenal sebagai planet layak huni adalah harapan bagi para astronom dan juga manusia untuk menemukan sebuah petunjuk keberadaan kehidupan lain selain Bumi.


Ilustrasi Planet Kepler-22b. Kredit : NASA/Ames/JPL-Caltech  
Hasilnya? Planet pertama dari ke-54 kandidat ini pun dikonfirmasi sebagai sebuah exoplanet atau planet yang mengorbit bintang lain selain Matahari. Dan dia juga masuk dalam jajaran planet yang berada di zona laik huni. Artinya ada kemungkinan si planet ini bisa mendukung adanya kehidupan.Februari 2011 Kepler mengumumkan penemuan 54 kandidat planet yang berada dalam zona laik huni. Kandidat-kandidat tersebut kemudian dipelajari lebih lanjut untuk mengetahui apakah mereka benar sebuah planet atau bukan.

Tapi ada hal lain yang menarik dari planet baru ini. Planet yang diberi nama Kepler-22 punya keunikan selain keberadaannya di zona laik huni. Bintang induk dari planet Kepler-22 adalah sebuah bintang serupa Matahari. Apakah lantas Kepler-22 bisa menjadi “saudara” Bumi?

Planet Kepler-22b
Exoplanet Kepler-22 yang ditemukan oleh wahana ruang angkasa Kepler tersebut memiliki ukuran 2,4 kali radius Bumi. Dan para ilmuwan pun belum bisa mengetahui apakah komposisi Kepler-22 didominasi batuan, gas atau cairan. Yang pasti penemuan Kepler-22 membawa manusia satu langkah lebih dekat untuk menemukan planet serupa Bumi.

Perbandingan area laik huni antara Tata Surya dan Kepler-22. Kredit : ASA/Ames/JPL-Caltech  
Jadi, meskipun Kepler-22 memiliki bintang induk yang sama yaitu yang serupa Matahari, tapi bukan berarti ia adalah saudara kembar Bumi. Kalau dianalisa dari ukuran, maka planet Kepler-22 lebih mirip planet gasNeptunus dibanding planet batuan. Tapi kalau ditilik dari lokasinya yang berada di zona laik huni bintang, tentunya ia berada pada orbit yang temperaturnya mirip dengan lokasi dimana Bumi berada. Zona laik huni adalah area yang dimiliki bintang yang bisa mempertahankan keberadaan air dalam wujud cair di permukaan planet. Artinya lagi, zona ini berada tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari bintang sehingga temperaturnya hangat. Temperatur permukaan planet Kepler-22b diperkirakan 22º Celsius.

Planet Kepler-22b berada 600 tahun cahaya dari Bumi dan mengitari bintang induknya di rasi angsa aka rasi Cygnus dalam waktu 290 hari. Bintang yang ia kitari memang merupakan bintang serupa Matahari yakni bintang tipe-G meskipun sedikit lebih kecil dan lebih dingin.

Apakah Kepler-22b Layak Huni?
Exoplanet Kepler-22b memang ditemukan berada di zona laik huni bintang induknya. Artinya, ia berada di area dimana air yang merupakan salah satu komponen penting bagi tumbuh kembangnya kehidupan bisa dipertahankan dalam wujud cair. Ini penting karena air yang dibutuhkan adalah air dalam wujud cair bukan uap air atau es. Mengapa demikian?

Sederhananya karena inilah kehidupan yang kita kenal. Kehidupan seperti yang kita miliki di Bumi. Nah dengan temperatur permukaan Kepler-22b yang diperkirakan 22º C, bagaimana kemungkinan kehidupan di sana?

Ada beberapa pendapat yang muncul setelah Kepler-22b diumumkan sebagai planet pertama laik huni di bintang serupa Matahari. Salah satunya datang dari peneliti Abel Mendez yang juga membuat katalog Planet Laik Huni dari Universitas Puerto Rico, Arecibo. Ia menggunakan radius Kepler-22b yang hanya 2,4 kali Bumi untuk menghitung kemungkinan massa dan kerapatan planet. Teori paling optimis agar planet ini bisa memiliki kehidupan jika Kepler-22b merupakan planet air alias planet yang memiliki lautan global dan awan. Tapi, Mendez sendiri senang jika ternyata ia salah.

Astronom Sara Seager dari MIT memberi catatan kalau ukuran Kepler-22b memungkinkan keberadaan atmosfer yang masif lengkap dengan efek rumahkaca yang masif. Artinya planet ini akan mirip Venus yang sangat panas. Terlalu panas bagi kehidupan untuk bisa bertahan.

Perkiraan temperatur di Kepler-22b ini dilakukan dengan dasar properti atmosfer serupa Bumi dan efek hangat. Ilmuwan belum bisa menentukan apakah planet tersebut memang memiliki komposisi serupa Bumi jika tidak diketahui massanya. Jika massanya sudah diketahui, maka dapat diketahui apakah planet ini memiliki komposisi batuan, lautan ataukah gas. Sara Seager sendiri mengasumsikan kalau Kepler-22b merupakan planet gas yang adalah Neptunus mini, planet yang diperkirakan absen dari Tata Surya.

Tapi bisa juga Kepler-22b merupakan planet batuan yang rapat. Jika memang demikian, Kepler-22b diperkirakan akan memiliki atmosfer tipis dan ada kesempatan bagi si planet untuk menjadi planet laik huni.

Deteksi Kepler-22b
Wahana ruang angkasa Kepler dalam melakukan pengamatan dari Mei 2009 telah mengumumkan kandidat planet baru sebanyak 2326 kandidat. Di antaranya, 207 kandidat berukuran Bumi, 680 merupakan kandidat Super Bumi, 1181 seukuran Neptunus, 203 kandidat seukuran Jupiter dan 55 kandidat lebih besar dari Jupiter. Dan Kepler-22b seperti yang sudah disebutkan, merupakan kandidat pertama yang dikonfirmasi sebagai planet dari 54 kandidat planet laik huni yang diumumkan Februari 2011. Dari ke-54 kandidat planet laik huni, saat ini tersisa 48 kandidat planet laik huni yang berdiam di zona laik huni bintangnya.

Tim Kepler juga sedang menyusun definisi mengenai kondisi zona laik huni kedalam katalog baru mereka untuk memperhitungkan juga efek hangat dari atmosfer. Redefinisi ini bisa jadi justru menggeser zoa laik huni makin jauh dari bintang.
Wahana Kepler mencari exoplanet dan kandidat exoplanet dengan mengukur penurunan kecerlangan pada lebih dari 150.000 bintang untuk melihat jika ada planet yang melintas atau transit di depan sebuah bintang. Untuk bisa memastikan sinyal tersebut adalah sebuah kandidat planet, Kepler membutuhkan setidaknya 3 kali transit.

Kepler-22b pertama kali dideteksi 3 hari setelah wahana Kepler diumumkan beroperasi. Dan transit ketiganya dikonfirmasi pada akhir tahun 2010. Setelah itu tim Kepler menggunakan teleskop landas bumi dan juga Teleskop Spitzer untuk melakukan pengamatan pada kandidat planet yang dilihat Kepler. Area yang diamati Kepler di rasi Cygnus dan Lyra hanya bisa dilihat oleh teleskop landas Bumi saat musim semi sampai awal musim gugur. Data yang dibutuhkan dari observasi lainnya ini digunakan untuk menentukan apakah si kandidat planet tadi memang sebuah planet.

Kepler-22b memang menjadi batu loncatan menuju penemuan kembaran Bumi di bintang serupa Matahari. Apalagi dengan adanya peningkatan jumlah kandidat planet Bumi dan Super Bumi yang mencapai 200 dan 140 persen sejak bulan Februari. Data baru ini sekaligus menunjukkan kalau planet seukuran Bumi “berlimpah” di galaksi.

Dan seandainya planet kembar Bumi ditemukan dan planet itu ternyata bisa memiliki kehidupan, bagaimana sikap kita?


Sumber

Komet awal kehidupan di Bumi?


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari 243rd National Meeting & Exposition of the American Chemical Society (ACS) pada tanggal 27 Maret kemarin mengemukakan suatu fakta yang mengejutkan. Mereka mengungkapkan bahwa, jutaan tahun lalu, bumi telah dibombardir oleh ribuan meteor dan juga komet. Menurut penelitian mereka, seperti yang dikutip oleh Sciencedaily.com, komet yang jatuh ke bumi membawa air sebagai awal muasal munculnya kehidupan di bumi.
Jennifer G. Blank, Ph.D., ketua penelitian tersebut mengemukakan bahwa komet yang menabrak bumi dengan kecepatan lebih dari 25 ribu kilometer/jam tersebut memecahkan kubah pelindung Amino Acids yang diketahui sebagai awal lahirnya kehidupan. Amino Acids tersebut mengeluarkan protein dan dari protein tersebut melahirkan mikroba yang berevolusi menjadi makhluk hidup sampai sekarang ini.

Menurut Blank, "Sebelum menabrak bumi, komet sudah memiliki unsur Amino Acids yang akhirnya keluar dari plasentanya dan melahirkan mikroba sebagai titik awal lahirnya kehidupan di bumi". Banyak ilmuwan yang juga mengatakan bahwa komet adalah benda langit yang memiliki kadar gas beku, air, es, debu, dan batu. Para astronom menyebutnya 'bola salju kotor'. Blank juga menuturkan bahwa, jaman dahulu, komet berputar mengelilingi matahari dan beberapa waktu komet-komet tersebut kehilangan titik edar dan meluncur menghujani planet-planet terdekat dengan matahari, termasuk bumi.

Bukti lain yang memperkuat bahwa jutaan tahun lalu bumi telah dibombardir oleh komet adalah banyaknya ceruk-ceruk di permukaan bulan. Seperti yand diketahui bulan memiliki jarak yang tidak begitu jauh dari bumi, dan tentu saja, apabila bumi terkena hantaman beribu-ribu komet, maka tidak menutup kemungkinan bulan juga terkena imbasnya. Sebelum komet menghajar bumi, planet ini merupakan planet yang memiliki suhu yang amat sangat panas dan sangat mustahil bagi makhluk hidup untuk mendiami tempat panas seperti bumi.


Blank dan rekannya dari Bay Area Environmental Research Institute NASA/Ames Research Center, Moffett Field, California, meneliti debu komet yang sempat dibawa pulang oleh astronot NASA dari luar angkasa. Dari debu tersebut, Blank berani menyimpulkan bahwa memang benar pada jutaan tahun lalu, kometlah yang membawa kehidupan di bumi. Blank juga mengatakan, "Tidak menutup kemungkinan bahwa bukan hanya komet saja yang membawa asal kehidupan di bumi. Asteroid atau meteor atau juga benda langit lain bisa jadi ikut berperan terhadap lahirnya kehidupan di bumi". Semoga perkataan Blank ini tidak menjadi bumerang seperti hipotesa Darwin, yang mengatakan manusia berasal dari kera.

Apa itu "Komet"?

Komet adalah salah satu anggota dari keluarga sistem tata surya
Komet adalah benda langit yang mengelilingi matahari dengan garis edar berbentuklonjong atau parabolis atau hiperbolis. Kata "komet" berasal dari bahasa Yunani, yang berarti "rambut panjang". Istilah lainnya adalah bintang berekor yang tidak tidak tepat karena komet sama sekali bukan bintang. Orang Jawa menyebutnya sebagai lintang kemukus karena memiliki ekor seperti buah kemukus yang telah dikeringkan.
Komet terbentuk dari es dan debu.Komet terdiri dari kumpulan debu dan gas yangmembeku pada saat berada jauh dari Matahari. Ketika mendekati Matahari, sebagianbahan penyusun komet menguap membentuk kepala gas dan ekor.Komet juga mengelilingi Matahari, sehingga termasuk dalam sistem tata surya.Komet merupakan gas pijar dengan garis edar yang berbeda-beda.Panjang "ekor" komet dapat mencapai jutaan km.Beberapa komet menempuh jarak lebih jauh di luarangkasa daripada planet. Beberapa komet membutuhkan ribuan tahun untuk menyelesaikan satu kali mengorbit Matahari. Komet mengorbit Matahari dalam suatu lintasanyang berbentuk elips

Bagian-Bagian Komet
Bagian-bagian komet terdiri dari inti, koma, awan hidrogen, dan ekor.Bagian-bagian komet sebagai berikut.
Inti, merupakan bahan yang sangat padat, diameternya mencapai beberapa kilometer, dan terbentuk dari penguapan bahan-bahan es penyusun komet, yang kemudian berubah menjadi gas.

Koma, merupakan daerah kabut atau daerah yang mirip tabir di sekeliling inti.
Lapisan hidrogen, yaitu lapisan yang menyelubungi koma, tidak tampak oleh mata manusia. Diameter awan hidrogen sekitar 20 juta kilometer.
Ekor, yaitu gas bercahaya yang terjadi ketika komet lewat di dekat Matahari.
Inti komet adalah sebongkah batu dan salju.Ekor komet arahnya selalu menjauh dari Matahari.Bagian ekor suatu komet terdiri dari dua macam, yaitu ekor debu dan ekor gas.Bentuk ekor debu tampak berbentuk lengkungan, sedangkan ekor gas berbentuklurus.Koma atau ekor komet tercipta saat mendekati Matahari yaitu ketika sebagian inti meleleh menjadi gas. Angin Matahari kemudian meniup gas tersebut sehingga menyerupai asap yang mengepul ke arah belakang kepala komet.Ekor inilah yang terlihat bersinar dari bumi. Sebuah komet kadang mempunyai satu ekor dan ada yang dua atau lebih.

Jenis-Jenis Komet
Berdasarkan bentuk dan panjang lintasannya, komet dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
  1. Komet berekor panjang, yaitu komet dengan garis lintasannya sangat jauh melalui daerah-daerah yang sangat dingin di angkasa sehingga berkesempatan menyerap gas-gas daerah yang dilaluinya. Ketika mendekati Matahari, komet tersebut melepaskan gas sehingga membentuk koma dan ekor yang sangat panjang. Contohnya, komet Kohoutek yang melintas dekat Matahari setiap 75.000 tahun sekali dan komet Halley setiap 76 tahun sekali.
  2. Komet berekor pendek, yaitu komet dengan garis lintasannya sangat pendek sehingga kurang memiliki kesempatan untuk menyerap gas di daerah yang dilaluinya. Ketika mendekati Matahari, komet tersebut melepaskan gas yang sangat sedikit sehingga hanya membentuk koma dan ekor yang sangat pendek bahkan hampir tidak berekor. Contohnya komet Encke yang melintas mendekati Matahari setiap 3,3 tahun sekali.

Nama-nama Komet
Sekarang telah dikenal banyak nama komet, antara lain sebagai berikut
  1. Komet Kohoutek.
  2. Komet Arend-Roland dan Komet Maikos yang muncul pada tahun 1957.
  3. Komet Ikeya-Seki, ditemukan pada bulan September 1965 oleh dua astronom Jepang, yaitu Ikeya dan T. Seki.
  4. Komet Shoemaker-Levy 9 yang hancur pada tahun 1994.
  5. Komet Hyakutake yang muncul pada tahun 1996.
  6. Komet Hale-Bopp yang muncul pada tahun 1997 dan lainnya.
  7. Komet Lovejoy
  8. Komet Halley terakhir muncul pada tahun 1986 dan muncul setiap 76 tahun.
  9. Komet Elenin
  10. Komet Encke komet ini merupakan salah satu dengan orbit terpendek yaitu 3 tahun sekali.
  11. Komet Brooks Ditemukan Juli 1911 penemunya William Robert Brooks dan nama belakangnya dijadikan nama komet ini.
  12. Komet Lulin Ditemukan pada 11 Juli 2007.
  13. Komet Hartley Komet ini nampak setiap 6 tahun sekali.
  14. Komet Kopff namanya berasal dari nama penemunya yaitu August Kopff . Diperkirakan nampak setiap 6 tahun sekali.
  15. Komet Swan
  16. Komet Bode ditemukan oleh Johann Elert Bode.
  17. Komet Holmes ditemukan oleh Edwin Holmes.

Komet Lovejoy

Komet Elenin

Komet Kohoutek

Komet Halley




Friday, September 21, 2012

Rasi Bintang

Suatu rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus. Dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang kita amati tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti berkelompok pada bola langit malam. Manusia memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam mengenali pola dan sepanjang sejarah telah mengelompokkan bintang-bintang yang tampak berdekatan menjadi rasi-rasi bintang. Susunan rasi bintang yang tidak resmi, yaitu yang dikenal luas oleh masyarakat tapi tidak diakui oleh para ahli astronomi atau Himpunan Astronomi Internasional, juga disebut asterisma. Bintang-bintang pada rasi bintang atau asterisma jarang yang mempunyai hubungan astrofisika; mereka hanya kebetulan saja tampak berdekatan di langit yang tampak dari Bumi dan biasanya terpisah sangat jauh.

Pengelompokan bintang-bintang menjadi rasi bintang sebenarnya cukup acak, dan kebudayaan yang berbeda akan memiliki rasi bintang yang berbeda pula, sekalipun beberapa yang sangat mudah dikenali biasanya seringkali ditemukan, misalnya Orionatau Scorpius.

Himpunan Astronomi Internasional telah membagi langit menjadi 88 rasi bintang resmi dengan batas-batas yang jelas, sehingga setiap arah hanya dimiliki oleh satu rasi bintang saja. Pada belahan bumi (hemisfer) utara, kebanyakan rasi bintangnya didasarkan pada tradisi Yunani, yang diwariskan melalui Abad Pertengahan, dan mengandung simbol-simbol Zodiak.

Beragam pola-pola lainnya yang tidak resmi telah ada bersama-sama dengan rasi bintang dan disebut asterisma, seperti Bajak (juga dikenal di Amerika Serikat sebagaiBig Dipper) dan Little Dipper


Rasi Bintang Orion


Orion adalah salah satu rasi bintang yang cukup terkenal. Batas wilayah Rasi bintang Orion digambarkan dalam garis kuning putus-putus.
Sumber

Daftar Rasi Bintang
Pada sidang umumnya yang pertama tahun 1922, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) secara resmi mengadopsi daftar modern 88rasi. Dalam sidang umum tersebut diputuskan juga penggunaan secara eksklusif nama latin dan singkatan dengan tiga huruf dalam penyebutannya.[1] Eugène Delporte kemudian ditunjuk untuk mendefinisikan batas-batas yang tegas untuk tiap rasi, sehingga setiap titik di langit pasti berada dalam wilayah satu rasi, dan tidak mungkin tumpang tindih dengan rasi yang lain.

Sebenarnya istilah rasi lebih tepat digunakan untuk mendefinisikan suatu daerah tertentu pada bola langit, namun istilah itu sudah digunakan secara luas untuk menyebut sebuah pola susunan bintang yang dikandung oleh daerah tersebut.

Rasi modern
rasisingkatannama genitifasal usul namaarti
Andromeda
IPA: [ænˈdɹɑ.mə.də]
AndAndromedae
IPA: [ænˈdɹɑ.mə.di]
Yunani kuno (Ptolemaeus)putri Andromeda
Antlia
IPA: [ˈænt.li.ə]
AntAntliae
IPA: [ˈænt.li.i]
1763, Lacaillepompa air
Apus
IPA: [ˈei.pəs]
ApsApodis
IPA: [ˈæ.pə.dɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
cendrawasih
Aquarius
IPA: [əˈkwe.ɹi.əs]
AqrAquarii
IPA: [əˈkwe.ɹi.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)pembawa air
Aquila
IPA: [ˈæ.kwə.lə]
AqlAquilae
IPA: [ˈæ.kwə.li]
Yunani kuno (Ptolemaeus)elang
Ara
IPA: [ˈe.ɹə]
AraArae
IPA: [ˈe.ɹi]
Yunani kuno (Ptolemaeus)altar
Aries
IPA: [ˈe.ɹiz]
AriArietis
IPA: [əˈɹai.ə.tɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)domba jantan
Auriga
IPA: [ɔˈɹai.gə]
AurAurigae
IPA: [ɔˈɹai.dʒi]
Yunani kuno (Ptolemaeus)sais kereta perang
Boötes
IPA: [bouˈou.tiz]
BooBoötis
IPA: [bouˈou.tɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)penggembala
Caelum
IPA: [ˈsi.ləm]
CaeCaeli
IPA: [ˈsi.lai]
1763, Lacaillepahat
Camelopardalis
IPA: [ kʰəˌmɛ.ləˈpʰaɹ.də.lɪs]
CamCamelopardalis
IPA: [ kʰəˌmɛ.ləˈpʰaɹ.də.lɪs]
1624, Bartsch [2]jerapah
Cancer
IPA: [ˈkʰæn.sɚ]
CncCancri
IPA: [ˈkʰæŋ.kɹai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ketam
Canes Venatici
IPA: [ˈkʰei.niz vɪˈnæ.tə.sai]
CVnCanum Venaticorum
IPA: [ˈkʰei.nəm vɪˌnæ.təˈkʰo.ɹəm]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
anjing-anjing
pemburu
Canis Major
IPA: [ˈkʰei.nɪs ˈmei.dʒɚ]
CMaCanis Majoris
IPA: [ˈkʰei.nɪs məˈdʒo.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)anjing besar
Canis Minor
IPA: [ˈkʰei.nɪs ˈmai.nɚ]
CMiCanis Minoris
IPA: [ˈkʰei.nɪs mɪˈno.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)anjing kecil
Capricornus
IPA: [ˌkʰæ.pɹəˈkʰɔɹ.nəs]
CapCapricorni
IPA: [ˌkʰæ.pɹəˈkʰɔɹ.nai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kambing laut
Carina
IPA: [kʰəˈɹai.nə]
CarCarinae
IPA: [kʰəˈɹai.ni]
1763, Lacaille,
dipisahkan dari Argo Navis
lunas kapal Argo
Cassiopeia
IPA: [ˌkʰæ.si.əˈpʰi.ə]
CasCassiopeiae
IPA: [ˌkʰæ.si.əˈpʰi.i]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ratu Ethiopia
Centaurus
IPA: [sɛnˈtʰɔ.ɹəs]
CenCentauri
IPA: [sɛnˈtʰɔ.ɹai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)Centaur
Cepheus
IPA: [ˈsi.fi.əs]
CepCephei
IPA: [ˈsi.fi.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)raja Ethiopia
Cetus
IPA: [ˈsi.təs]
CetCeti
IPA: [ˈsi.taɪ]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ikan paus
Chamaeleon
IPA: [kʰəˈmi.li.ən]
ChaChamaeleontis
IPA: [kʰəˌmi.liˈɑn.tɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
bunglon
Circinus
IPA: [ˈsɝ.sə.nəs]
CirCircini
IPA: [ˈsɝ.sə.nai]
1763, Lacaillekompas
Columba
IPA: [kʰɵˈlʌm.bə]
ColColumbae
IPA: [kʰɵˈlʌm.bi]
1679, Royer,
dipisahkan dari Canis Major
merpati
Coma Berenices
IPA: [ˈkʰou.mə ˌbɛ.ɹəˈnai.siz]
ComComae Berenices
IPA: [ˈkʰou.mi ˌbɛ.ɹəˈnai.siz]
1603, Uranometria,
dipisahkan dari Leo
rambut Berenice
Corona Australis [3]
IPA: [kʰɵˈɹou.nə ɔˈstɹei.lɪs]
CrACoronae Australis
IPA: [kʰɵˈɹou.ni ɔˈstɹei.lɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)mahkota selatan
Corona Borealis
IPA: [kʰɵˈɹou.nə ˌbo.ɹiˈei.lɪs]
CrBCoronae Borealis
IPA: [kʰɵˈɹou.ni ˌbo.ɹiˈei.lɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)mahkota utara
Corvus
IPA: [ˈkʰɔɹ.vəs]
CrvCorvi
IPA: [ˈkʰɔɹ.vai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)burung gagak
Crater
IPA: [ˈkʰɹei.tɚ]
CrtCrateris
IPA: [kʰɹəˈtʰi.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)cangkir
Crux
IPA: [ˈkʰɹʌks]
CruCrucis
IPA: [ˈkʰɹu.sɪs]
1603, Uranometria,
dipisahkan dari Centaurus
salib selatan
Cygnus
IPA: [ˈsɪg.nəs]
CygCygni
IPA: [ˈsɪg.nai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)angsa
Delphinus
IPA: [dɛlˈfai.nəs]
DelDelphini
IPA: [dɛlˈfai.nai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)lumba-lumba
Dorado
IPA: [dɵˈɹei.dou]
DorDoradus
IPA: [dɵˈɹei.dəs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
ikan todak
Draco
IPA: [ˈdɹei.kou]
DraDraconis
IPA: [dɹəˈkʰou.nɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)naga
Equuleus
IPA: [ɪˈkʰwu.li.əs]
EquEquulei
IPA: [ɪˈkʰwu.li.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kuda kecil
Eridanus
IPA: [ɪˈɹɪ.də.nəs]
EriEridani
IPA: [ɪˈɹɪ.də.nai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)sungai
Fornax
IPA: [ˈfɔɹ.næks]
ForFornacis
IPA: [fɔɹˈnei.sɪs]
1763, Lacailletungku
Gemini
IPA: [ˈdʒɛ.mə.nai]
GemGeminorum
IPA: [ˌdʒɛ.məˈno.rəm]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kembar
Grus
IPA: [ˈgɹʌs]
GruGruis
IPA: [ˈgɹu.ɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
burung bangau
Hercules
IPA: [ˈhɝ.kjə.liz]
HerHerculis
IPA: [ˈhɝ.kjə.lɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)Hercules,
anak Zeus
Horologium
IPA: [ˌhɑ.ɹəˈlou.dʒi.əm]
HorHorologii
IPA: [ˌhɑ.ɹəˈlou.dʒi.ai]
1763, Lacaillejam
Hydra
IPA: [ˈhai.dɹə]
HyaHydrae
IPA: [ˈhai.dɹi]
Yunani kuno (Ptolemaeus)naga laut
Hydrus
IPA: [ˈhai.dɹəs]
HyiHydri
IPA: [ˈhai.dɹai]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
ular air
Indus
IPA: [ˈɪn.dəs]
IndIndi
IPA: [ˈɪn.dai]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
Indian
Lacerta
IPA: [ləˈsɝ.tə]
LacLacertae
IPA: [ləˈsɝ.ti]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
kadal
Leo
IPA: [ˈli.ou]
LeoLeonis
IPA: [liˈou.nɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)singa
Leo Minor
IPA: [ˈli.ou ˈmai.nɚ]
LMiLeonis Minoris
IPA: [liˈou.nɪs mɪˈno.ɹɪs]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
singa kecil
Lepus
IPA: [ˈli.pəs]
LepLeporis
IPA: [ˈlɛ.pə.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kelinci
Libra
IPA: [ˈlai.bɹə]
LibLibrae
IPA: [ˈlai.bɹi]
Yunani kuno (Ptolemaeus)timbangan
Lupus
IPA: [ˈlu.pəs]
LupLupi
IPA: [ˈlu.pai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)serigala
Lynx
IPA: [ˈlɪŋks]
LynLyncis
IPA: [ˈlɪn.sɪs]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
lynx
Lyra
IPA: [ˈlai.ɹə]
LyrLyrae
IPA: [ˈlai.ɹi]
Yunani kuno (Ptolemaeus)sejenis kecapi
Mensa
IPA: [ˈmɛn.sə]
MenMensae
IPA: [ˈmɛn.si]
1763, Lacaillemeja
Microscopium
IPA: [ˌmai.kɹəˈskou.pi.əm]
MicMicroscopii
IPA: [ˌmai.kɹəˈskou.pi.ai]
1763, Lacaillemikroskop
Monoceros
IPA: [mɵˈnɑ.sə.ɹɑs]
MonMonocerotis
IPA: [mɵˌnɑ.səˈɹou.tɪs]
1624, Bartschkuda bertanduk
Musca
IPA: [ˈmʌ.skə]
MusMuscae
IPA: [ˈmʌ.si]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
lalat
Norma
IPA: [nɔɹˈmə]
NorNormae
IPA: [nɔɹˈmi]
1763, Lacailletimbangan datar
Octans
IPA: [ˈɑk.tænz]
OctOctantis
IPA: [ɑkˈtʰæn.tɪs]
1763, Lacailleoktan
Ophiuchus
IPA: [ˌou.fiˈju.kəs]
OphOphiuchi
IPA: [ˌou.fiˈju.kaɪ]
Yunani kuno (Ptolemaeus)tangan naga
Orion
IPA: [ɵˈɹai.ən]
OriOrionis
IPA: [ˌo.ɹiˈou.nɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)pemburu
Pavo
IPA: [ˈpʰei.vou]
PavPavonis
IPA: [pʰəˈvou.nɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
merak
Pegasus
IPA: [ˈpʰɛ.gə.səs]
PegPegasi
IPA: [ˈpʰɛ.gə.sai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kuda bersayap
Perseus
IPA: [ˈpʰɝ.sjus]
PerPersei
IPA: [ˈpʰɝ.si.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)Perseus
Phoenix
IPA: [ˈfi.nɪks]
PhePhoenicis
IPA: [fɪˈnai.sɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
Phoenix
Pictor
IPA: [ˈpʰɪk.tɚ]
PicPictoris
IPA: [pʰɪkˈtʰo.ɹɪs]
1763, Lacaillekuda-kuda
Pisces
IPA: [ˈpʰai.siz]
PscPiscium
IPA: [ˈpʰɪ.ʃi.əm]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ikan
Piscis Austrinus
IPA: [ˈpʰai.sɪs ɔˈstɹai.nəs]
PsAPiscis Austrini
IPA: [ˈpʰai.sɪs ɔˈstɹai.nai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ikan selatan
Puppis
IPA: [ˈpʰʌ.pɪs]
PupPuppis
IPA: [ˈpʰʌ.pɪs]
1763, Lacaille,
dipisahkan dari Argo Navis
buritan kapal Argo
Pyxis
IPA: [ˈpʰɪk.sɪs]
PyxPyxidis
IPA: [ˈpʰɪk.sədɪs]
1763, Lacaillekompas kapal Argo
Reticulum
IPA: [ɹɪˈtʰɪ.kjə.ləm]
RetReticuli
IPA: [ɹɪˈtʰɪk.jə.lai]
1763, Lacaillejaring
Sagitta
IPA: [səˈdʒɪ.tə]
SgeSagittae
IPA: [səˈdʒɪ.ti]
Yunani kuno (Ptolemaeus)anak panah
Sagittarius
IPA: [ˌsæ.dʒəˈtʰe.ɹi.əs]
SgrSagittarii
IPA: [ˌsæ.dʒəˈtʰe.ɹi.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)pemanah
Scorpius
IPA: [ˈskɔɹ.pi.əs]
ScoScorpii
IPA: [ˈskɔɹ.pi.ai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)kalajengking
Sculptor
IPA: [ˈskʌlp.tɚ]
SclSculptoris
IPA: [skʌlpˈtʰo.ɹɪs]
1763, Lacaillealat pemahat
Scutum
IPA: [ˈskju.təm]
SctScuti
IPA: [ˈskju.tai]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
perisai
Serpens [4]
IPA: [ˈsɝ.pɛnz]
SerSerpentis
IPA: [sɝˈpʰɛn.tɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)ular
Sextans
IPA: [ˈsɛk.stænz]
SexSextantis
IPA: [sɛkˈstæn.tɪs]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
sekstan
Taurus
IPA: [ˈtʰɔ.ɹəs]
TauTauri
IPA: [ˈtʰɔ.ɹai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)lembu jantan
Telescopium
IPA: [ˌtʰɛ.ləˈskou.pi.əm]
TelTelescopii
IPA: [ˌtʰɛ.ləˈskou.pi.ai]
1763, Lacailleteleskop
Triangulum
IPA: [tʰɹaiˈæŋ.gjə.ləm]
TriTrianguli
IPA: [tʰɹaiˈæŋ.gjə.lai]
Yunani kuno (Ptolemaeus)segitiga
Triangulum Australe
IPA: [tʰɹaiˈæŋ.gjə.ləm ɔˈstrɹei.li]
TrATrianguli Australis
IPA: [tʰɹaiˈæŋ.gjə.lai ɔˈstɹei.lɪs]
1603 Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
segitiga selatan
Tucana
IPA: [tʰjʊˈkʰei.nə]
TucTucanae
IPA: [tʰjʊˈkʰei.ni]
1603 Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
burung tukan
Ursa Major
IPA: [ˈɝ.sə ˈmei.dʒɚ]
UMaUrsae Majoris
IPA: [ˈɝ.si məˈdʒo.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)beruang besar
Ursa Minor
IPA: [ˈɝ.sə ˈmai.nɚ]
UMiUrsae Minoris
IPA: [ˈɝ.si mɪˈno.ɹɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)beruang kecil
Vela
IPA: [ˈvi.lə]
VelVelorum
IPA: [vɪˈlo.ɹəm]
1763, Lacaille,
dipisahkan dari Argo Navis
layar kapal Argo
Virgo
IPA: [ˈvɝ.gou]
VirVirginis
IPA: [ˈvɝ.dʒə.nɪs]
Yunani kuno (Ptolemaeus)sang perawan
Volans
IPA: [ˈvou.lænz]
VolVolantis
IPA: [vɵˈlæn.tɪs]
1603, Uranometria,
ciptaan Keyser dan de Houtman
ikan terbang
Vulpecula
IPA: [vʌlˈpʰɛ.kjə.lə]
VulVulpeculae
IPA: [vʌlˈpʰɛ.kjə.li]
1690, Firmamentum Sobiescianum,
Hevelius
rubah
Sumber

Daftar rasi bintang menurut luas
Berikut ini adalah 88 rasi bintang modern berdasarkan luasnya di langit, diukur dalam derajat persegi.
Tabel

UrutanKeluargaSingkatanNamaLuas(derajat persegi)PersentaseAsensio RektaDeklinasiKuadran
01HerHYAHydra1302,8443,16% 11j 36m 44d -14° 31′ 55″SQ2
02ZodVIRVirgo1294,4283,14% 13j 24m 23d -04° 09′ 31″SQ3
03UrsUMAUrsa Major1279,6603,10% 11j 18m 46d +50° 43′ 16″NQ2
04PerCETCetus1231,4112,99% 01j 40m 06d -07° 10′ 46″SQ1
05HerHERHercules1225,1482,97% 17j 23m 10d +27° 29′ 56″NQ3
06WatERIEridanus1137,9192,76% 03j 18m 01d -28° 45′ 22″SQ1
07PerPEGPegasus1120,7942,72% 22j 41m 50d +19° 27′ 59″NQ4
08UrsDRADraco1082,9522,63% 15j 08m 38d +67° 00′ 24″NQ3
09HerCENCentaurus1060,4222,57% 13j 04m 16d -47° 20′ 43″SQ3
10ZodAQRAquarius979,8542,38% 22j 17m 23d -10° 47′ 21″SQ4
11HerOPHOphiuchus948,3402,30% 17j 23m 41d -07° 54′ 44″SQ3
12ZodLEOLeo946,9642,30% 10j 40m 02d +13° 08′ 19″NQ2
13UrsBOOBoötes906,8312,20% 14j 42m 32d +31° 12′ 10″NQ3
14ZodPSCPisces889,4172,16% 00j 28m 58d +13° 41′ 14″NQ1
15ZodSGRSagittarius867,4322,10% 19j 05m 54d -28° 28′ 37″SQ4
16HerCYGCygnus803,9831,95% 20j 35m 16d +44° 32′ 42″NQ4
17ZodTAUTaurus797,2491,93% 04j 42m 08d +14° 52′ 38″NQ1
18UrsCAMCamelopardalis756,8281,83% 08j 51m 22d +69° 22′ 53″NQ2
19PerANDAndromeda722,2781,75% 00j 48m 28d +37° 25′ 55″NQ1
20WatPUPPuppis673,4341,63% 07j 15m 29d -31° 10′ 38″SQ2
21PerAURAuriga657,4381,59% 06j 04m 25d +42° 01′ 41″NQ2
22HerAQLAquila652,4731,58% 19j 40m 01d +03° 24′ 41″NQ4
23HerSERSerpens636,9281,54% 16j 57m 02d +06° 07′ 19″NQ3
24PerPERPerseus614,9971,49% 03j 10m 30d +45° 00′ 47″NQ1
25PerCASCassiopeia598,4071,45% 01j 19m 10d +62° 11′ 02″NQ1
26OriORIOrion594,1201,44% 05j 34m 35d +05° 56′ 58″NQ1
27PerCEPCepheus587,7871,42% 22j 00m 00d +71° 00′ 31″NQ4
28UrsLYNLynx545,3861.32% 07j 59m 32d +47° 28′ 00″NQ2
29ZodLIBLibra538,0521,30% 15j 11m 54d -15° 14′ 05″SQ3
30ZodGEMGemini513,7611,25% 07j 04m 14d +22° 36′ 01″NQ2
31ZodCNCCancer505,8721,23% 08j 38m 58d +19° 48′ 21″NQ2
32WatVELVela499,6491,21% 09j 34m 38d -47° 10′ 02″SQ2
33ZodSCOScorpius496,7831,20% 16j 53m 14d -27° 01′ 53″SQ3
34WatCARCarina494,1841,20% 08j 41m 52d -63° 13′ 10″SQ2
35OriMONMonoceros481,5691,17% 07j 03m 38d +00° 16′ 56″NQ2
36LacSCLSculptor474,7641,15% 00j 26m 17d -32° 05′ 18″SQ1
37BayPHEPhoenix469,3191,14% 00j 55m 55d -48° 34′ 50″SQ1
38UrsCVNCanes Venatici465,1941,13% 13j 06m 58d +40° 06′ 07″NQ3
39ZodARIAries441,3951,07% 02j 38m 10d +20° 47′ 32″NQ1
40ZodCAPCapricornus413,9471,00% 21j 02m 56d -18° 01′ 23″SQ4
41LacFORFornax397,5020,96% 02j 47m 53d -31° 38′ 04″SQ1
42UrsCOMComa Berenices386,4750,94% 12j 47m 16d +23° 18′ 20″NQ3
43OriCMACanis Major380,1180,92% 06j 49m 44d -22° 08′ 26″SQ2
44BayPAVPavo377,6660,92% 19j 36m 43d -65° 46′ 53″SQ4
45BayGRUGrus365,5130,89% 22j 27m 35d -46° 21′ 07″SQ4
46HerLUPLupus333,6830,81% 15j 13m 13d -42° 42′ 32″SQ3
47HerSEXSextans313,5150,76% 10j 16m 17d -02° 36′ 53″SQ2
48BayTUCTucana294,5570,71% 23j 46m 38d -65° 49′ 48″SQ4
49BayINDIndus294,0060,71% 21j 58m 20d -59° 42′ 24″SQ4
50LacOCTOctans291,0450,71% 23j 00m 00d -82° 09′ 07″SQ4
51OriLEPLepus290,2910,70% 05j 33m 57d -19° 02′ 47″SQ1
52HerLYRLyra286,4760,69% 18j 51m 10d +36° 41′ 22″NQ4
53HerCRTCrater282,3980,68% 11j 23m 45d -15° 55′ 44″SQ2
54WatCOLColumba270,1840,65% 05j 51m 46d -35° 05′ 40″SQ1
55HerVULVulpecula268,1650,65% 20j 13m 53d +24° 26′ 34″NQ4
56UrsUMIUrsa Minor255,8640,62% 15j 00m 00d +77° 41′ 59″NQ3
57LacTELTelescopium251,5120,61% 19j 19m 32d -51° 02′ 13″SQ4
58LacHORHorologium248,8850,60% 03j 16m 34d -53° 20′ 11″SQ1
59LacPICPictor246,7390,60% 05j 42m 28d -53° 28′ 27″SQ1
60WatPSAPiscis Austrinus245,3750,59% 22j 17m 04d -30° 38′ 32″SQ4
61BayHYIHydrus243,0350,59% 02j 20m 39d -69° 57′ 23″SQ1
62LacANTAntlia238,9010,58% 10j 16m 26d -32° 29′ 01″SQ2
63HerARAAra237,0570,57% 17j 22m 29d -56° 35′ 18″SQ3
64UrsLMILeo Minor231,9560,56% 10j 14m 43d +32° 08′ 05″NQ2
65WatPYXPyxis220,8330,54% 08j 57m 10d -27° 21′ 06″SQ2
66LacMICMicroscopium209,5130,51% 20j 57m 53d -36° 16′ 29″SQ4
67BayAPSApus206,3270,50% 16j 08m 39d -75° 18′ 00″SQ3
68PerLACLacerta200,6880,49% 22j 27m 41d +46° 02′ 31″NQ4
69WatDELDelphinus188,5490,46% 20j 41m 37d +11° 40′ 16″NQ4
70HerCRVCorvus183,8010,45% 12j 26m 31d -18° 26′ 12″SQ3
71OriCMICanis Minor183,3670,44% 07j 39m 10d +06° 25′ 38″NQ2
72BayDORDorado179,1730,43% 05j 14m 31d -59° 23′ 13″SQ1
73UrsCRBCorona Borealis178,7100,43% 15j 50m 35d +32° 37′ 29″NQ3
74LacNORNorma165,2900,40% 15j 54m 11d -51° 21′ 05″SQ3
75LacMENMensa153,4840,37% 05j 24m 54d -77° 30′ 14″SQ1
76BayVOLVolans141,3540,34% 07j 47m 44d -69° 48′ 04″SQ2
77BayMUSMusca138,3550,34% 12j 35m 17d -70° 09′ 40″SQ3
78PerTRITriangulum131,8470,32% 02j 11m 04d +31° 28′ 34″NQ1
79BayCHAChamaeleon131,5920,32% 10j 41m 32d -79° 12′ 18″SQ2
80HerCRACorona Australis127,6960,31% 18j 38m 47d -41° 08′ 51″SQ4
81LacCAECaelum124,8650,30% 04j 42m 16d -37° 52′ 54″SQ1
82LacRETReticulum113,9360,28% 03j 55m 16d -59° 59′ 51″SQ1
83HerTRATriangulum Australe109,9780,27% 16j 04m 57d -65° 23′ 17″SQ3
84HerSCTScutum109,1140,26% 18j 40m 23d -09° 53′ 19″SQ4
85LacCIRCircinus93,3530,23% 14j 34m 32d -63° 01′ 49″SQ3
86HerSGESagitta79,9320,19% 19j 39m 03d +18° 51′ 41″NQ4
87WatEQUEquuleus71,6410,17% 21j 11m 16d +07° 45′ 29″NQ4
88HerCRUCrux68,4470,17% 12j 26m 59d -60° 11′ 11″SQ3


Sumber